Kekerasan Terhadap Anak Wujud Masalah Sosial yang Kronis

Pengertian Kekerasan
Menurut WHO (WHO, 1999), kekerasan adalah penggunaan kekuatan
fisik dan kekuasaan, ancaman atau tindakan terhadap diri sendiri, perorangan
atau sekelompok orang atau masyarakat yang mengakibatkan atau
kemungkinan besar mengakibatkan memar/trauma, kematian, kerugian
psikologis, kelainan perkembangan atau perampasan hak. Kekuatan fisik dan
kekuasaan harus dilihat dari segi pandang yang luas mencakup tindakan atau
penyiksaan secara fisik, psikis/emosi, seksual dan kurang perhatian
(neglected). (http://www1.bpkpenabur.or.id/charles/orasi6a.htm).
Kekerasan dalam arti lain juga bisa diartikan sebagai penggunaan
kekuatan secara destruktif terhadap orang dan harta benda miliknya, seringkali
terperangkap dalam mekanisme pendefinisian diri yang disebutkan di atas.
Tentu saja, ada proses antara perbedaan sebagai basis identitas dan kelompok
di satu pihak, dan kemunculan tindakan kekerasan di pihak lain. Seperti
pernah dikatakan Johan Galtung, ada proses sosialisasi ketika kondisi-kondisi

http://psikologi.or.id

kekerasan menjadi bagian dari pikiran, persepsi, dan sikap manusia.
(http://www.csps-ugm.or.id/artikel/250200SRP.htm)
Sedangkan menurut PP Pengganti UU No.1 tahun 2002, Kekerasan
adalah setiap perbuatan penyalahgunaan kekuatan fisik dengan atau tanpa
menggunakan sarana secara melawan hukum dan menimbulkan bahaya bagi
badan, nyawa, dan kemerdekaan orang, termasuk menjadikan orang pingsan
atau tidak berdaya.
Jenis-jenis kekerasan itu sendiri ada banyak macamnya, salah satunya
yaitu kekerasan terhadap anak yang menjadi topik bahasan pada makalah ini.
Kekerasan terhadap anak merupakan fenomena kekerasan yang sering
dilakukan oleh orang-orang terdekat anak tersebut. Hal ini sinkron dengan
definisi kekerasan yang dilakukan oleh orang terdekat yaitu kekerasan dimana
terdapat ancaman atau penggunaan kekerasan terhadap mitra dekat (orang
dekat)yang mengakibatkan atau berpotensi mengakibatkan kematian, trauma
dan hal hal yang berbahaya. Tindakan yang dilakukan mencakup fisik,
psikologis/emosional dan seksual yang dilakukan dalam hubungan kemitraan
itu. Yang dimaksud dengan mitra adalah orang tua, saudara, suami atau istri,
dating partner/pacar, bekas istri dan bekas pacar.
Selain itu kekerasan terhadap anak juga memiliki definisi lain, yaitu :
1) Kekerasan berupa serangan pada bagian tubuh
2) Kekerasan berupa komunikasi berisi penghinaan, malu dan takut
3) Kekerasan berupa tidak bertindak yang berakibat pada kegagalan tingkat
kekerasan anak.
2. Jenis-jenis kekerasan pada anak
Terry E. Lawson, psikiater internasional yang merumuskan definisi tentang
kekerasan terhadap anak, menyebut ada empat macam abuse, yaitu emotional abuse,
verbal abuse, physical abuse, dan sexual abuse.( http://www.pikiranrakyat.
com/cetak/2006/012006/15/hikmah/utama01.htm)
Kekerasan pada anak bukan hanya berupa deraan fisik saja, tapi juga hal lain
yang dapat melukai anak, adapun jenisnya antara lain :
(a) Physical Abuse
Physical abuse, terjadi ketika orang tua/pengasuh dan pelindung anak
memukul anak (ketika anak sebenarnya memerlukan perhatian). Pukulan
akan diingat anak itu jika kekerasan fisik itu berlangsung dalam periode

http://psikologi.or.id

tertentu. Kekerasan yang dilakukan seseorang berupa melukai bagian
tubuh anak
(b) Emotional Abuse
Emotional abuse terjadi ketika orang tua/pengasuh dan pelindung anak
setelah mengetahui anaknya meminta perhatian, mengabaikan anak itu. Ia
membiarkan anak basah atau lapar karena ibu terlalu sibuk atau tidak ingin
diganggu pada waktu itu. Ia boleh jadi mengabaikan kebutuhan anak untuk
dipeluk atau dilindungi. Anak akan mengingat semua kekerasan emosional
jika kekerasan emosional itu berlangsung konsisten. Orang tua yang secara
emosional berlaku keji pada anaknya akan terus-menerus melakukan hal
sama sepanjang kehidupan anak itu
Biasanya berupa perilaku verbal dimana pelaku melakukan pola
komunikasi yang berisi penghinaan, ataupun kata-kata yang melecehkan
anak. Pelaku biasanya melakukan tindakan Mental Abuse, menyalahkan,
melabeli, atau juga mengkambing hitamkan.
(c) Neglect / Pengabaian
Pengabaian di sini dalam artian anak tidak mendapatkan perlindungan
ataupun perhatian dari orang-orang terdekat maupun orang di lingkungan
sekitarnya. Pengabaian bisa terjadi baik sengaja maupun tidak sengaja.
Pengabaian itu sendiri bisa berupa pengabaian secara :
- fisik – edukasi
- kesehatan – psikologis
(d) Seksual
Dalam pasal 8 dijelaskan bahwa kekerasan seksual meliputi
pemaksaan hubungan seksual yang dilakukan terhadap orang yang
menetap dalam lingkup rumah tangga tersebut (seperti istri, anak dan
pekerja rumah tangga). Selanjutnya, dalam penjelasan pasal 8 huruf a UU
PKDRT di jelaskan bahwa kekerasan seksual adalah setiap perbuatan yang
berupa pemaksaan hubungan seksual, pemaksaan hubungan seksual
dengan cara tidak wajar dan/atau tidak disukai, pemaksaan hubungan
seksual dengan orang lain untuk tujuan komersil dan/atau tujuan tertentu.
Mengenai hukuman bagi pelaku, ditegaskan dalam pasal 46 UU PKDRT
ini yang menyatakan para pelaku pemaksaan hubungan seksual dalam
rumah tangga diancam hukuman pidana yakni pidana penjara paling lama

http://psikologi.or.id

12 (dua belas tahun) atau denda paling banyak Rp 36.000.000 (tiga puluh
enam juta rupiah) (http://www.lbh-apik.or.id/fact-60.htm).
(e) Komersialisasi
Kekerasan tipe ini merupakan kekerasan dimana adanya unsure
pengambilan keuntungan materi secara sepihak oleh pelaku kekerasan
terhadap korban baik secara sengaja maupun tidak sengaja.
Komersialisasi itu bisa berupa :
1) Perlakuan menjadi buruh anak , contoh : menjadi buruh pabrik, PRT,
Jermal
2) Prostitusi
3) Perdagangan
3. Faktor-faktor yang menyebabkan kekerasan terhadap anak
Beberapa faktor pencetus terjadinya kekerasan ialah :
a) Faktor masyarakat: 1) Kemiskinan, 2) Urbanisasi yang terjadi disertainya
kesenjangan pendapatan diantara penduduk kota 3) Masyarakat keluarga
ketergantungan obat 4) Lingkungan dengan frekwensi kekerasan dan kriminalitas
tinggi.
b) Faktor keluarga: 1) Adanya anggota keluarga yang sakit yang membutuhkan
bantuan terus menerus seperti misalnya anak dengan kelainan mental, orang tua,
2) Kehidupan keluarga yang kacau tidak saling mencinta dan menghargai, serta tidak
menghargai , 3) kurang ada keakraban dan hubungan jaringan sosial pada keluarga,
4) Sifat kehidupan keluarga inti bukan keluarga luas
(http://www1.bpkpenabur.or.id/charles/orasi6a.htm)
4. Dampak kekerasan terhadap anak
Banyak peneliti membuktikan, pelaku kekerasan mempunyai masa lalu yang
sarat dengan kekerasan. Akibatnya, terjadi proses peniruan dari peristiwa yang dilihat
dan dialaminya, atau ada rasa ingin balas dendam dari apa yang dialaminya dengan
mengulangi peristiwa tersebut, dan kali ini sasarannya adalah istri dan anak-anaknya.
Bila dalam satu keluarga ayah dan ibu pernah mengalami kekerasan pada waktu
mudanya, kemungkinan mereka melakukan tindak kekerasan terhadap anak mereka

http://psikologi.or.id

sebesar 50%. Bila yang mengalami kekerasan waktu muda tersebut ayah atau ibunya
saja, maka risikonya sebesar 32%.
Perilaku kekerasan juga dipengaruhi oleh kepribadian seseorang: paranoid, narsistik,
dan pasif – agresif memiliki kecenderungan untuk memiliki perilaku kekerasan.
Perilaku kekerasan juga dipengaruhi oleh gangguan kejiwaan yang dialami pada masa
anak dan psikopatologi yang dimiliki orang tuanya. Dari penelitian yang dilakukan
oleh LSM yang bergerak di bidang kekerasan dalam keluarga, dari 165 kasus yang
ditangani memperlihatkan dampak kepada korban, antara lain:
- Gangguan kejiwaan (73,94%) termasuk kecemasan, rasa rendah diri, fobia dan
depresi.
- Gangguan fisik (50,30%) berupa cedera, gangguan fungsional, dan cacat permanen.
- Gangguan kesehatan reproduksi (4,85%), termasuk kehamilan yang tidak
diinginkan, infeksi menular seksual, dan abortus.
Anak yang mengalami atau menyaksikan peristiwa kekerasan dalam keluarga
dapat menderita post traumatic stress disorder (stres pascatrauma), yang dapat tampil
dalam bentuk sebagai gangguan tidur, sulit memusatkan perhatian, keluhan
psikosomatik (sakit kepala atau sakit perut). Anak juga akan mengalami frustrasi yang
dapat membuatnya berusaha mencari pelarian yang negatif seperti melalui alkohol
atau penggunaan napza.
5. Kekerasan terhadap anak di Indonesia
Berdasarkan penelitian yang didukung oleh Badan Perserikatan Bangsa-
Bangsa (PBB) untuk Masalah Anak (Unicef), masih banyak anak-anak di Indonesia
yang mendapatkan perlakuan buruk.
Survei yang dilakukan pada 2002 melibatkan 125 anak dan berlangsung
selama enam bulan. Survei itu meliputi wawancara yang diawasi dengan sangat teliti.
Dari survei itu terungkap, dua per tiga anak laki-laki dan sepertiga anak perempuan
pernah dipukul. Lebih dari seperempat anak perempuan dalam survei itu mengalami
perkosaan
Survei yang jauh lebih luas dilakukan pada 2003 dan melibatkan sekitar 1.700
anak. Dari survei itu terungkap, sebagian besar anak mengaku pernah ditampar,

http://psikologi.or.id

dipukul, atau dilempar dengan benda. Namun, tidak ada bukti telah terjadi
pemerkosaan
Pada awal 2006, temuan penelitian mendalam mengenai kekerasan terhadap
anak di Jawa Tengah, Sulawesi Selatan, dan Sumatera Utara menunjukkan, tindak
kekerasan di sekolah melibatkan kekerasan terhadap fisik dan mental
Di Jawa Tengah, sebanyak 80 persen guru mengaku pernah menghukum anakanak
dengan berteriak pada mereka di depan kelas. Sebanyak 55 persen guru mengaku
pernah menyuruh murid mereka berdiri di depan kelas
Di Sulawesi Selatan, sebanyak 90 persen guru mengaku pernah menyuruh
murid berdiri di depan kelas, diikuti oleh 73 persen pernah berteriak kepada murid,
dan 54 persen pernah menyuruh murid untuk membersihkan atau mengelap toilet
Sementara itu, di Sumatera Utara, lebih dari 90 persen guru mengaku pernah
menyuruh murid mereka berdiri di depan kelas, dan 80 persen pernah berteriak pada
murid. (http://www.indonesia.go.id/index.php/content/view/2495/712/)
Kesimpulannya bahwa kekerasan terhadap anak di Indonesia kini mulai
semakin kronis hal ini terlihat dari makin banyaknya pelaku tindak kekerasan dan
korbannya. Tentunya jika hal ini tidak segera tertangani dengan baik maka akan
menjadi sebuah problem sosial yang semakin sulit penanganannya. Sehingga perlu
penanganan dan perhatian yang serius dari berbagai pihak .
C. Kajian Teori
Adapun analisis perilaku korupsi di Indonesia ditinjau dari teori psikologi sosial
yaitu Hanurawan, Fattah, (2004) :
1. Teori belajar social
Perspektif teori belajar sosial memandang perilaku manusia sebagai hasil
dari saling interaksi antara pengaruh situasi, perilaku individu, serta kognisi an
emosi individu.
Menurut Albert Bandura (dalam Baron dan Byrne, 1997), mengemukakan
bahwa perilaku individu dipelajari dengan melakukannya dan secara langsung
mengalami konsekuensi-konsekuensinya. Proses pembelajaran akan semakin
dikuatkan apabila kita secara sadar memahami konsekuensi-konsekuensi dari
suatu peilaku. Selain itu individu juga mempelajari perilaku baru melalui
pengamatan dan observasi.
Kekerasan terhadap anak merupakan hasil aplikasi dari teori belajar social
dimana jika pelaku kekerasan sebelumnya pernah mengalami tindakan kekerasan

http://psikologi.or.id

yang serupa maka akan ada kemungkinan akan melakukan hal yang sama pula
pada orang lain, termasuk orang-orang terdekatnya misalnya anak atau istri.
Menurut analisis teori Bandura proses pembelajaran tentang perilaku
kekerasan akan semakin dikuatkan apabila kita sadar dan memahami keuntungankeuntungan
yang didapat dari perilaku kekerasan tersebut, misalnya saja ini terjadi
pada kekerasan berupa komersialisasi anak Dimana keuntungan akan diperoleh
orang dewasa yang memanfaatkan potensi anak tersebut.
D. Pemecahan Masalah
Kekerasan terhadap anak yang mulai menjangkiti masyarakat ini sudah
selayaknyalah jika mendapat penanganan yang lebih baik dan serius dari pihakpihak
yang terkait baik itu pemerintah maupun masyarakat. Penulis di sini akan
memberikan beberapa alternatif saran untuk memecahkan masalah kekerasan
terhadap anak yang sudah mulai kronis ini, yaitu ;
(1) Sosialisasi yang lebih gencar lagi dari pemerintah tentang pentingnya
untuk segera melaporkan apabila terjadi tindak kekerasan. Hal ini mungkin
tidak dilakukan oleh korban sendiri yang notabene masih anak-anak tapi
bisa dilakukan oleh orang-orang dewasa di sekitarnya, baik yang memiliki
hubungan darah maupun orang lain di sekitarnya. Jadi bagaimana
pemerintah mengemas publikasi untuk penanganan korban kekerasan
sesegera mungkin dan pemerintah juga harus lebih memudahkan prosedur
bantuannya
(2) Hendaknya lembaga-lembaga baik pemerintahan maupun LSM atau
organisasi yang bergerak di bidang penanganan korban kekerasan ini
memperhatikan aspek psikologis pelaku maupun korban ketika proses
menjalani bantuan pemecahan masalah agar tidak semakin membebani
(3) Hendaknya mulai ditanamkan kesadaran di masyarakat bahwa anak
bukanlah milik orang tua atau kerabat saja yang bisa diperlakukan
sesukanya tapi sebagai suatu tanggung jawab yang harus dijaga dan
dilindungi
(4) Terjadinya kerjasama semua pihak, semua pihak mulai berempati dan
menunjukkan kepeduliannya terhadap anak berupa perlindungan dan
peningkatan kesejahteraanKekerasan terhadap anak di Indonesia
Berdasarkan penelitian yang didukung oleh Badan Perserikatan Bangsa-
Bangsa (PBB) untuk Masalah Anak (Unicef), masih banyak anak-anak di Indonesia
yang mendapatkan perlakuan buruk.
Survei yang dilakukan pada 2002 melibatkan 125 anak dan berlangsung
selama enam bulan. Survei itu meliputi wawancara yang diawasi dengan sangat teliti.
Dari survei itu terungkap, dua per tiga anak laki-laki dan sepertiga anak perempuan
pernah dipukul. Lebih dari seperempat anak perempuan dalam survei itu mengalami
perkosaan
Survei yang jauh lebih luas dilakukan pada 2003 dan melibatkan sekitar 1.700
anak. Dari survei itu terungkap, sebagian besar anak mengaku pernah ditampar,

This entry was posted in Anak. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s